Semakin

Tahukah kau, semakin aku meyakinkan diriku baik-baik saja

Akan selalu menyakiti dan menyesakkan diri

Sampai kapan… Tuhan

Sudahilah saja rasaku ini

Hidup hanya serangkaian rasa dan sudut pandang bukan?

 

Tuhan .. usailah perasaanku

Tuhan .. jadikan aku orang yang tegar

 

Advertisements

Kehabisan

Aku kehabisan aksara

Kelelahan mencari alasan

Bagaimana lagi aku bisa menjalani hari tanpamu

Aku tidak bisa

Bahkan saat kini kau jadi milikku pun

Ketakutan selalu ada

Bagaimana aku harus menggenggammu tidak terlalu kuat

Tidak juga membebaskanmu dengan terlalu luas

Aku tidak pandai merawat

Aku tidak tahu bagaimana caranya

Aku hanya mahir dalam cemas

Aku hanya mahir dalam mengadakan masalah dalam kepalaku sendiri

Oh.. apakah benar kau penawar rinduku?

Apakah justru mencintaimu akan selalu memupuk ketidakwarasanku lagi

Kukira kau adalah jalan kewarasanku

Aku kembali percaya dan menghindari lagi dunia manipulasi

Aku mulai berkawan dengan realita dan berjarak dengan fiksi

Tanpamu .. aku tak tahu lagi apakah akan kubisa

Memiliki atau tidak memilikimu

Mengapa cemasku tak kunjung berubah?

Bagaimana caraku terapi jiwaku?

Mencari kemana lagikah penyembuhanku

Aktifis Beralis

Assalamualaikum
Bismillahirrahmanirrahiim..

Apakabar sahabat semua?

Semoga kita selalu dalam keadaan sehat dan waras ..aaamiin

Saya memposisikan diri sebagai pengamat yang ga cermat-cermat amat

Aktifis yang gak idealis-idealis amat

(mantan) Mahasiswa yang gak cerdas-cerdas amat

Yaa.. terserah juga sih mau dilihat dari mana

Saya hanya mencoba mencari sudut pandang yang (semoga saja) baru dan fresh untuk dikonsumsi.

Mundur ke beberapa tahun ke belakang dimana saya terjebak dalam dunia kemahasiswaan khususnya organisasi intra maupun ekstra, saya mendapati orang-orang dengan jiwa idealis dan berintegritas itu (dalam kelas mahasiswa) biasanya kurang memperhatikan penampilannya atau fashion-nya. Terutama biasanya perempuan-perempuan di forum, mereka yang vokal biasanya hanya berpenampilan seadanya, bahkan kadang dengan muka kucel, bau badan yang kurang asyik, dan pakaian yang tidak nyambung. Ini memang bukan masalah. Seorang teman lelaki saya sesama aktifis malah pernah menganggap sebelah mata perempuan yang bermakeup, perempuan yang memperhatikan penampilannya, seolah perempuan seperti itu adalah yg kurang integritasnya, ada juga teman saya yang menganggap makeup itu hanya sebatas benda untuk menarik hati lawan jenisnya.

Yang menarik adalah celetukan teman sejurusanku, dia yang anaknya asyik banget, enjoy banget pernah bilang, “kalau di forum-forum kaya gini, minim perempuan-perempuan lucu ya.” Nah dari situlah saya sadar. Ada benarnya juga ya.

Lalu saya berpikir apakah benar perempuan bermakeup itu jarang peduli terhadap organisasi dan sebaliknya, perempuan yang berorganisasi itu jarang bermakeup? Memang tidak semua, tapi kebanyakan memang begitu. Lalu timbul pertanyaan baru, ketika orang yang masih bisa berorganisasi dan mementingkan juga penampilannya, apakah orang yang berorganisasi dan berantakan itu hanya malas saja? Atau belom diberi kesadaran bahwa penampilan rapi dan baik juga merupakan bagian dari adab atau manner kita dalam bertemu dengan lawan bicara.

Saya sangat tidak setuju jika makeup dikaitkan dengan keapatisan perempuan di dalam dunia sosialnya, dikaitkan dengan sifat hedonis apalagi dianggap sebagai alat untuk mencari perhatian lawan jenis.

Menurut saya pribadi, saya pun pernah ada di posisi menganggap bahwa makeup itu hanya sebagai alat menye2 seorang perempuan yang haus akan perhatian dan pujian, tetapi tidak sekarang. Makeup dan pakaian yang rapi adalah bagian dari adab atau manner kita dalam bertemu dengan orang lain, dalam menghadiri acara. Apa acaranya, kita harus tahu harus bagaimana cara berpenampilan kita, bukan harus menor, bukan harus glamor, yang penting adalah kepantasan dan kerapian, menyesuaikan dengan occasions.

Saya salut dengan aktifis beralis, aktifis perempuan yang masih bisa memperhatikan penampilannya dengan baik dengan sedikit polesan makeup dan vokal juga di forum, bayangkan di tengah kesibukan waktunya, dia masih bisa menghargai lawan bicara dan juga kawan-kawan organisasinya dengan menampilkan wajah yang segar dan enak dipandang. Bukankah estetika itu penting pada setiap hal? Meskipun sifatnya adalah pilihan dan bukan sebuah kewajiban. Saya tetap salut pada aktifis beralis

 

Aktifis beralis = aktifis perempuan yang memakai pensil alis dan teman-temannya (makeup)

Orang Realistis itu Menyebalkan

Untuk saya yang merasa dibentuk dan dibesarkan dengan ideologi irrealis, mungkin sulit bagi saya menghadapi orang-orang yang realistis, disini mari kita persempit definisi orang realistis yang saya maksud adalah orang yang bersifat matrealis, menganggap sesuatu itu harus dengan uang, bekerja untuk uang, hidup dengan uang, sehingga harusnya tidak salah jika saya sebut dengan hamba uang?

Saya bertemu lagi dengan teman kuliah saya, sekarang kami sama-sama sudah bekerja, dia bekerja sesuai dengan jurusan kami kuliah, sedang saya bekerja/mengabdi atau saya lebih suka menyebutnya melanjutkan belajar di lembaga sosial. Beberapa celetukan dia membuat saya agak tersinggung, lalu saya timpali dengan bahasa saya yg normatif. Oh.. salahkah respon saya itu? Setelah itu muncul sedikit ketegangan, yaa diantara kami ini sama-sama memiliki watak yang keras kepala dan tidak mau kalah.

“DASAR ORANG YANG REALISTIS” dalam hati saya. Padahal memang kita ini pun perlu untuk realistis, memang. Aaah.. sesungguhnya perdebatan antara saya dan teman saya itupun tidak ada gunanya. Ibarat membenturkan dua batu besar, yang tidak ada selesainya.

Ini mungkin pelajaran bagi saya, memahami bahwa pandangan orang yang beragam harus disikapi dan dihadapi dengan beragam pula, misalnya kepada teman saya itu, tidak serta merta harus saya jelaskan bagaimana ideologi saya, bagaiman saya memandang uang itu seperti apa, bagaimana saya memandang perputaran hidup itu seperti apa. Astaghfirullah.. rupanya saya masih sangat egois, masih kurang bijak dalam menghadapi orang lain

Kumpulan Mimpi #1

Aku takut lupa, maka aku menulis

  1. Jalan ke taman yang unik, banyak seni instalasi yang unik, lalu pada akhirnya seperti ada Blue Mosque Turki berwarna putih
  2. Mimpi bahwa penyakit dari sodaraku memang bukan penyakit medis, tapi memang ada yang perlu diselidiki
  3. Mimpi membawa mobil tapi berganti jadi mengendarai motor, padahal memang tidak bisa bawa motor, di mimpi jadi tiba2 bisa, dan berusaha tetap seimbang

Saya Ingin Mencintai Tanpa Harus Orang yang Saya Cintai Merasa Menang

Kira-kira sudah 4 tahun lebih saya menjomblo, atau saya lebih suka menyebutnya memilih untuk sendiri. Ya tentu, menjalani hari dengan sendiri itu adalah pilihan. Pada kenyataannya kita tidak pernah benar-benar sendiri, bukan? Selalu ada keluarga, sahabat, teman-teman dan masih banyak lainnya orang yang peduli terhadap hidupku.

Terlebih rasanya hidupku tidak pernah benar-benar sepi. Aku selalu dan masih dikelilingi perhatian-perhatian keluarga inti maupun keluarga besarku. Aku merasa aku selalu menjadi tokoh utama dalam beberapa kisah (memang setiap orang adalah tokoh utama dalam hidupnya masing-masing), apakah ini yang membuat diriku terkadang egois dan minim empati terhadap sekitar?

Oh iya, biar kujelaskan arti minim empati ini, yang aku maksud adalah aku kurang bisa ikut merasakan kesalnya teman-temanku ketika aku sengaja atau tidak sengaja membatalkan janji, kesalnya keluargaku jika aku tidak mengabari mereka ketika aku pergi atau ketika ku sudah sampai di tempat tujuan maupun empati terhadap binatang, aku bukan pecinta hewan. Tapi lain halnya kepada orang kecil, alhamdulillah aku masih punya empati untuk melihat mereka sebagai orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan dan kemerataan ekonomi, aku turut ikut merasakan lelahnya kerja keras mereka yang (menurutku) hasilnya tidak sebanding dengan usahanya. Mari kita skip ini.

Lalu dalam hubungan, aku pernah mencintai sebegitunya sampai aku harus merasakan tidak perlu mencintai siapa-siapa karena akan mendapatkan akhir yang sama. Aku pernah begitu terjatuh hati dengan lelaki yang menurutku pun dia itu bukan lelaki yang layak aku cintai, bukan lelaki yang pernah aku bayangkan, tapi faktanya, pada akhirnya aku yang sangat terobsesi olehnya.. yaa.. TEROBSESI!

Berjalanlah hidup seperti seharusnya, aku masih sendiri dan masih pada pendirianku bahwa lebih baik sendiri daripada bersama dengan orang yang salah. Padahal, mana kita tau salah atau tidaknya jika kita tidak mencoba?

Sekarang, kadang-kadang aku merasa sepi juga di satu sisi hatiku (sisi hati lainnya tak pernah sepi). Aku mencoba menghadirkan beberapa kesenangan-kesenangan eksternal, yang semoga saja bisa masuk melewati beragam identifikasi dunia imajinasiku. Karena pada akhirnya, yang mencipta bahagia itu remoteku sendiri yang mengaktifkan bahagia untuk beragam skenario fiksiku. Aahh.. lelah rasanya, sulit rasanya percaya lagi pada kandidat-kandidat zat endorphin yang nyatanya mesti aku lagi yang menyetting itu. Rasanya otak dan hatiku tidak lagi memiliki sistem auto-bahagia, semua kulakukan dengan manual dan hati-hati. Imunku terlampau kuat untuk menerima fiksi-fiksi halus yang mengancam, meskipun isi kepalaku sebenarnya sudah penuh dengan fiksi.

Mencintai lagi .. sepertinya butuh untuk meruntuhkan dinding yang telah kubangun dengan kokoh, yang sempat runtuh, yang telah kubangun kembali dengan sisa-sisa batu bata rapuh. Nyatanya bisa.

Lalu, aku memilih lagi, aku bisa dengan mudah bilang kata-kata manis dengan wajah datar, aku bisa saja mengucap rindu dengan hati dingin. Aku bisa saja mencintai lelaki lebih dulu, tapi aku tidak ingin menumbuhkan perasaaan pada lelaki itu bahwa aku yang mencintainya lebih dulu, aku tidak ingin mereka merasa menang. Tidak, aku mencintai seseorang karena aku memilih untuk mencintai, bukan karena siapa dia, bagaimana dia, dan kenapa dia. Ini murni keputusanku.

Ah.. lelah sekali menjadi orang yang sudah minim percaya dan tidak lagi yakin ada itu setia, kata setia memang ada, lalu siapakah yang berani memaknai dan melaksanakan SETIA? siapa?

Ketika semua kembali pada hati, lalu yang kulihat pada banyaknya hubungan-hubungan di luar sana, terlalu banyak ketidaksetiaan, entah itu pada perbuatan, ada pula yang bertahan dalam hubungan, sedang hatinya tidak, lalu apa baiknya?

Hal yang pertama harus kulakukan adalah tidak membuat orang yang aku cintai merasa menang atas diriku. Sesungguhnya yang kuinginkan adalah SALING, bukan mana yang PALING mencintai, mana yang PALING berkorban. Selagi masih ada PALING, kukira tidak ada SALING

 

 

 

 

Sekali Nyata, Ribuan Fana

Kaulah itu

Satu yang membelenggu

Hantarkan pada gelisah tak berujung

Ambisi tak sehatku

Namun satu2nya yang melihatkanku nyata

Menilaiku jujur dengan mata kepala

Caramu itu

Tak kutemukan pada lalu

Nyata sekali .. sekali nyata hadirmu

Berkali-kali yang membeku dalam abadi

Berkali pula hilang dalam ketiadaan waktu

Ingin kubunuh waktu

Terutama waktu denganmu

Hilang semua semu

Mana nyata, mana fana

Larimu .. semukan suasana

Ilustrasi tabu dari kenyataan yg kaucipta

Lari dengan tangan hampa

Meski kau cipta lagi bahagia

Tanpa membawa tangan lainnya yg kau tinggal

Oh … terkutuklah kau nyata

Bahagiaku fana