Kumpulan Mimpi #1

Aku takut lupa, maka aku menulis

  1. Jalan ke taman yang unik, banyak seni instalasi yang unik, lalu pada akhirnya seperti ada Blue Mosque Turki berwarna putih
  2. Mimpi bahwa penyakit dari sodaraku memang bukan penyakit medis, tapi memang ada yang perlu diselidiki
  3. Mimpi membawa mobil tapi berganti jadi mengendarai motor, padahal memang tidak bisa bawa motor, di mimpi jadi tiba2 bisa, dan berusaha tetap seimbang
Advertisements

Saya Ingin Mencintai Tanpa Harus Orang yang Saya Cintai Merasa Menang

Kira-kira sudah 4 tahun lebih saya menjomblo, atau saya lebih suka menyebutnya memilih untuk sendiri. Ya tentu, menjalani hari dengan sendiri itu adalah pilihan. Pada kenyataannya kita tidak pernah benar-benar sendiri, bukan? Selalu ada keluarga, sahabat, teman-teman dan masih banyak lainnya orang yang peduli terhadap hidupku.

Terlebih rasanya hidupku tidak pernah benar-benar sepi. Aku selalu dan masih dikelilingi perhatian-perhatian keluarga inti maupun keluarga besarku. Aku merasa aku selalu menjadi tokoh utama dalam beberapa kisah (memang setiap orang adalah tokoh utama dalam hidupnya masing-masing), apakah ini yang membuat diriku terkadang egois dan minim empati terhadap sekitar?

Oh iya, biar kujelaskan arti minim empati ini, yang aku maksud adalah aku kurang bisa ikut merasakan kesalnya teman-temanku ketika aku sengaja atau tidak sengaja membatalkan janji, kesalnya keluargaku jika aku tidak mengabari mereka ketika aku pergi atau ketika ku sudah sampai di tempat tujuan maupun empati terhadap binatang, aku bukan pecinta hewan. Tapi lain halnya kepada orang kecil, alhamdulillah aku masih punya empati untuk melihat mereka sebagai orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan dan kemerataan ekonomi, aku turut ikut merasakan lelahnya kerja keras mereka yang (menurutku) hasilnya tidak sebanding dengan usahanya. Mari kita skip ini.

Lalu dalam hubungan, aku pernah mencintai sebegitunya sampai aku harus merasakan tidak perlu mencintai siapa-siapa karena akan mendapatkan akhir yang sama. Aku pernah begitu terjatuh hati dengan lelaki yang menurutku pun dia itu bukan lelaki yang layak aku cintai, bukan lelaki yang pernah aku bayangkan, tapi faktanya, pada akhirnya aku yang sangat terobsesi olehnya.. yaa.. TEROBSESI!

Berjalanlah hidup seperti seharusnya, aku masih sendiri dan masih pada pendirianku bahwa lebih baik sendiri daripada bersama dengan orang yang salah. Padahal, mana kita tau salah atau tidaknya jika kita tidak mencoba?

Sekarang, kadang-kadang aku merasa sepi juga di satu sisi hatiku (sisi hati lainnya tak pernah sepi). Aku mencoba menghadirkan beberapa kesenangan-kesenangan eksternal, yang semoga saja bisa masuk melewati beragam identifikasi dunia imajinasiku. Karena pada akhirnya, yang mencipta bahagia itu remoteku sendiri yang mengaktifkan bahagia untuk beragam skenario fiksiku. Aahh.. lelah rasanya, sulit rasanya percaya lagi pada kandidat-kandidat zat endorphin yang nyatanya mesti aku lagi yang menyetting itu. Rasanya otak dan hatiku tidak lagi memiliki sistem auto-bahagia, semua kulakukan dengan manual dan hati-hati. Imunku terlampau kuat untuk menerima fiksi-fiksi halus yang mengancam, meskipun isi kepalaku sebenarnya sudah penuh dengan fiksi.

Mencintai lagi .. sepertinya butuh untuk meruntuhkan dinding yang telah kubangun dengan kokoh, yang sempat runtuh, yang telah kubangun kembali dengan sisa-sisa batu bata rapuh. Nyatanya bisa.

Lalu, aku memilih lagi, aku bisa dengan mudah bilang kata-kata manis dengan wajah datar, aku bisa saja mengucap rindu dengan hati dingin. Aku bisa saja mencintai lelaki lebih dulu, tapi aku tidak ingin menumbuhkan perasaaan pada lelaki itu bahwa aku yang mencintainya lebih dulu, aku tidak ingin mereka merasa menang. Tidak, aku mencintai seseorang karena aku memilih untuk mencintai, bukan karena siapa dia, bagaimana dia, dan kenapa dia. Ini murni keputusanku.

Ah.. lelah sekali menjadi orang yang sudah minim percaya dan tidak lagi yakin ada itu setia, kata setia memang ada, lalu siapakah yang berani memaknai dan melaksanakan SETIA? siapa?

Ketika semua kembali pada hati, lalu yang kulihat pada banyaknya hubungan-hubungan di luar sana, terlalu banyak ketidaksetiaan, entah itu pada perbuatan, ada pula yang bertahan dalam hubungan, sedang hatinya tidak, lalu apa baiknya?

Hal yang pertama harus kulakukan adalah tidak membuat orang yang aku cintai merasa menang atas diriku. Sesungguhnya yang kuinginkan adalah SALING, bukan mana yang PALING mencintai, mana yang PALING berkorban. Selagi masih ada PALING, kukira tidak ada SALING

 

 

 

 

Sekali Nyata, Ribuan Fana

Kaulah itu

Satu yang membelenggu

Hantarkan pada gelisah tak berujung

Ambisi tak sehatku

Namun satu2nya yang melihatkanku nyata

Menilaiku jujur dengan mata kepala

Caramu itu

Tak kutemukan pada lalu

Nyata sekali .. sekali nyata hadirmu

Berkali-kali yang membeku dalam abadi

Berkali pula hilang dalam ketiadaan waktu

Ingin kubunuh waktu

Terutama waktu denganmu

Hilang semua semu

Mana nyata, mana fana

Larimu .. semukan suasana

Ilustrasi tabu dari kenyataan yg kaucipta

Lari dengan tangan hampa

Meski kau cipta lagi bahagia

Tanpa membawa tangan lainnya yg kau tinggal

Oh … terkutuklah kau nyata

Bahagiaku fana

Masa Tua Tertawa

Sumpah kuingin kau

Sumpah aku kehabisan kata dan cara

Menarikmu kembali

Merasuki lingkaranku

Sumpah kuingin ini hanya mimpi

Merinduimu setengah mati

Sesungguhnya bukan diriku

Kau bukanlah apa

Egoku berkata

Namun hatiku ingin

Disampingku kau berada

Sumpah habis serapah

Hilang kemudian jadi resah

Kealpaanmu abadi dalam realita

Mengapa menginginkanmu segila ini

Sumpah kuharap ini hanya keinginan semu

Yang suatu saat akan ku lupakan sama sekali

Atau kutertawakan di masa tua nanti

Islam Nusantara, Cocokkah untuk Kaum Rebel?

Islam Nusantara atau model Islam Indonesia menurut wikipedia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia. Istilah ini secara perdana resmi diperkenalkan dan digalakkan oleh organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 2015, sebagai bentuk penafsiran alternatif masyarakat Islam global yang selama ini selalu didominasi perspektif Arab dan Timur Tengah.
Rebel; pemberontak. (sifat memberontak)
Islam datang ke bumi nusantara dengan damai, dengan tanpa paksaan dan juga ancaman. Peran walisongo dalam mengislamkan nusantara sangat luar biasa, dimana menanamkan nilai Islam bukan dengan menghilangkan adat dan budaya nusantara pada saat itu, melainkan justru dengan budaya itu sendiri. Akulturasi adat dan budaya adalah hal yang sangat cocok untuk masyarakat nusantara, mereka tetap berbudaya Indonesia dan berIslam, menghilangkan hal-hal buruk dan melanjutkan kebaikan yang ada di dalamnya.
Penyebaran Islam oleh Wali Songo adalah suatu strategi luar biasa cerdik, mengingat pada kala itu negara-negara Islam kebanyakan di wilayah Arab, kental pula dengan budaya Arab, tapi para wali ini justru menyatukan adat dan budaya dengan Islam, tentunya dakwah memang harus perlahan. Seperti contohnya mengajarkan mualaf kita tidak boleh langsung mengatakan, bahwa babi itu haram, musik itu haram, dsb. Ada nilai yang lebih harus diutamakan dalam memperkenalkan Islam. Rasulullah saw pun menarik hati orang-orang yang masuk Islam justru karena perangainya, adab dan akhlak yang baik, bahkan memperlakukan non-muslim yang juga musuhnya dengan berprilaku santun.
Islam Nusantara kemudian berkembang dan menjalar ke kehidupan masyarakat Indonesia. Tahlilan, syukuran 4 bulan dan 7 bulan bayi di kandungan misalnya, dan banyak lagi perayaan maulid yang hampir di setiap daerah mempunyai ciri khasnya.
Kemudian kultur Islam Nusantara sudah tidak asing lagi bagi kalangan pesantren, lingkup agamis daerah, bahkan saya merasa saking sudah mengIndonesia-nya islam nusantara, mungkin kita terlupa banyak ‘orang-orang baru masa kini’ yang perlu bimbingan agama, dan caranya sudah tidak sama lagi dengan dahulu.
Kini kultur Islam Nusantara hanya berjaya di daerah-daerah, sedangkan kaum perkotaan khususnya anak-anak ‘hijrah’ lebih memilih merapat ke dakwah-nya salafi-wahabi. Mengapa bisa demikian? Terlenakah kita dengan Islam Nusantara yang dirasa sudah natural dengan sendirinya, yang dirasa sudah sangat cukup diterima untuk beragam kalangan, kalangan awam dan juga kalangan agamawan.
Mari kembali ke pembahasan awal, cocokkah Islam Nusantara untuk Kaum Rebel?
Kaum rebel disini diartikan dengan mereka, atau kita yang memiliki sifat pemberontak, tidak mesti anak punk, anak-anak jalanan, kaum marjinal dan sebagainya. Mari kita persempit dengan ‘orang yang memiliki sifat memberontak’.
Untuk orang yang baru ingin mengenal Islam, mereka membutuhkan pemahaman Islam secara universal, nilai-nilai Islam yang dicontohkan dan dipraktikkan, dan tentunya dengan cara yang santai dan damai. Kaum rebel ini memiliki jiwa yang bebas dan menjunjung tinggi pluralisme.
Di sisi lain, saya rasa Islam Nusantara kini malah menjadi kaum eksklusif, contohnya pondok pesantren diminati oleh kalangan kiai dan keluarga pesantren lagi, orang-orang daerah yang sudah kental nilai agamanya, perayaan-perayaan maulid di masing-masing daerah hanya diketahui dan jaya bagi daerahnya saja. Seolah perputaran kejayaan Islam Nusantara hanya di lingkaran itu-itu saja. Islam Nusantara yang terkenal dengan moderat, sejuk dan damai ternyata bisa juga menciptakan fanatisme. Kok bisa yang berada di posisi tengah melahirkan fanatisme? Ya, dengan kita yang merasa sudah NU, yang merasa sudah dengan Islam yang paling cocok di Nusantara, ada beberapa dari kita yang fanatik terhadap organisasi. Merasa yang selain dari organisasi kita adalah yang salah, yang keliru. Memandang orang-orang yang berhijrah ala salafi-wahabi adalah bukan dari kita, dan bukan merangkul, kita malah merasa mereka ‘berbeda’.
Bagaimana pemahaman kaum rebel yang ingin mengenal Islam jika dalam Islam sendiri terlihat tidak bersatu, tidakkah hal tersebut justru menciptakan kebingungan padanya? Islam seperti apa yang harus diikutinya. Saya suka sekali dengan gaya dakwah Cak Nun, dimana semua orang berkumpul, santri-santri, anak-anak nongkrong sekitar, dsb. Ajaran dan cara mengajak Cak Nun sangat Islam Nusantara meskipun beliau tidak mengklaim sebagai anggota organisasi tertentu. Pengajian bulanannya di Taman Ismail Marzuki contohnya, tidak pernah sepi, meskipun saat hujan.
Kemudian melihat fenomena anak-anak hijrah yang merapat ke jamaah tabligh yang merangkuli mantan musisi-musisi rock Indonesia (bisa kita sebut mantan kaum rebel).  Meskipun kita memiliki beberapa perbedaan faham dengan jamaah tabligh, mungkin cara berdakwahnya perlu kita pelajari. Ada apa dengan tausyiah dan cara pendekatan kita terhadap mereka? Mengapa dalam pengajian kita justru yang timbul adalah ngantuk? Yang kita harapkan adalah nasi bungkus?
Mungkinkah mereka (kaum rebel) sudah bosan dengan penamaan-penamaan ‘islam apa?’, ataukah kita sebagai kader-kader Islam Nusantara yang masih perlu memperkuat strategi dalam melebarkan sayap untuk menyampaikan nilai-nilai Islam yang mereka rindukan. Mungkin bisa kita mulai dengan menjamuri media sosial dengan konten-konten Islam Nusantara, bisa juga dengan pendekatan hobi-hobi mereka, berbaur dengan komunitasnya dan tentunya sharing dimulai dengan yang ringan-ringan, mencontoh dengan perbuatan (da’wah bil haal).
Menurut kalian sudah cocokkah Islam Nusantara dengan kaum rebel?

Terbalik Kesekian

Aku pernah mengklaim kehidupanku yang terbalik saat SMA, kehidupan yang benar-benar berbalik, aku di pesantren saat itu. Aku terbentuk dengan aturan baru, kebiasaan baru dan teman-teman baru, menghabiskan waktu 24/7 dengan teman-teman, berbagi kamar, berbagi kamar mandi, berbagi makanan, dll. Eh, memang sebegitunya yaa dalam merubah aku? Tentu sih menurutku.

Aku menjadi manusia yang belajar berempati, bersimpati dan lebih mengamati, aku juga menjadi orang yang lebih teratur, well-planned dan penuh dengan ambisi, terutama saat aku terpilih menjadi ketua divisi Perpustakaan di organisasi pesantrenku, semacam OSIS kalau di SMA lainnya.

Singkat cerita, memasuki dunia kuliah, duniaku terasa terbalik lagi, aku hidup dan tumbuh di lingkungan yang agamis, dan baru kali ini aku berada di lingkungan umum, bertemu dengan beragam macam manusia dan karakter-karakter baru yang belum aku temui sebelumnya. Dari sini aku belajar toleransi, pertemanan tanpa pandang latar belakang dan hal-hal berharga lainnya.

Di perkuliahan aku memiliki lingkaran pertemanan yang cukup ragam, berteman dengan anak-anak kesehatan yang hobinya main ke mall dan bergosip itu lingkaran pertamaku sebelum aku bergaul dengan teman-teman sejurusanku, DKV yang notabene lebih santai, independen, dan susah diatur. Aku juga punya lingkaran pertemanan sesama anak masjid kampus, yang berpakaian syari dan ucapan penuh dengan keteduhan. Lalu aku bertahan lama di lingkaran pertemananku yang cukup sesuai denganku, aku tak tahu harus kuberi nama apa.

Di masing-masing lingkaran itu aku merasa sangat cukup baik diterima. Misalnya aku ini bukan termasuk anak yang ngemall banget, tapi ketika aku dengan lingkaran tsb aku bisa membawa diriku untuk fit in. Ketika aku bergabung dengan anak-anak masjid aku juga bisa berbaur seputar dunia ide dan pemikiran, meskipun pakaianku tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang syar’i. Ketika berkumpul dengan teman-temanku yang ‘bebas’ aku juga diterima bahkan mereka menjadi teman yang paling setia kawan yang pernah aku temui.

Aku bersyukur sejak lahir pun aku merasa sudah dianugerahi dengan dua dunia. Maksudku dua dunia adalah dunia yang orangtuaku miliki. Mamaku lahir dan tumbuh di lingkungan yang sangat agamis sementara Abiku lahir dan tumbuh di lingkungan yang tidak begitu agamis, beliau tumbuh dengan gaya hidup yang berbeda dengan mama.

Aku senang sekali saat dulu aku merasa semua sama, tidak ada beda, aku terbiasa dengan beda, aku menyadari perbedaan saat kuliah, betapa manusia banyak sekali dan terbiasa mengkotak-kotakkan, mungkin jika aku sudah dari dulu menyadari perbedaan, aku tidak akan mau masuk pesantren, tempat aku pesantren itu tidak ada mall, tidak ada bioskop, dll

Yaa.. terkadang ketidaktahuan itu menyelamatkan, itu kata-kata favoritku

Aku anak kedua dari tiga bersaudara, awalnya aku tidak merasa berbeda, hingga pada titik tertentu aku merasa berbeda dan aku bangga, bukan mempermasalahkan berbeda fisik, tapi caraku berbicara, caraku mengutarakan ide, caraku berprilaku mungkin cukup beda untuk lingkunganku, entah apapun itu. Dan itu berlaku di semua lingkungan yang aku masuki, aku selalu berdiri beberapa meter dengan kesamaan, aku selalu memposisikan diriku sedikit berbeda dari kebanyakan. Misalnya yaa, ketika aku di kanan, aku akan mencoba membuka mata teman-temanku soal kiri, ketika aku di kiri, aku membela kanan.

Lalu aku selalu merasa terbalik lagi, terbalik terus.. haha

Dan ini menyenangkan, menjadi beda bagiku adalah… menjadi berani!

Atas semua yang kulalui

Kusyukuri

Atas semua orang yang pernah aku temui

Terimakasih telah memberi warna dan arti

Hikmah dan pembelajaran selalu ada

Untuk mereka yang membuka mata